Viral Warga Perbaiki Jalan Rusak Pakai Live TikTok
huntercryptocoin.com – Fenomena warga memperbaiki jalan rusak memakai dana live TikTok di Pragaan Laok, Sumenep, memantik perhatian publik. Selama satu dekade, akses utama desa tersebut dibiarkan penuh lubang, becek saat hujan, berdebu saat kemarau. Alih-alih menunggu janji perbaikan dari pejabat, warga memilih bertindak sendiri. Mereka menggalang dukungan pemirsa TikTok hingga terkumpul sekitar Rp30 juta, lalu digunakan untuk membenahi ruas jalan rusak yang selama ini menghambat aktivitas harian.
Kisah ini bukan sekadar cerita viral. Peristiwa tersebut mencerminkan dua kenyataan kontras. Pertama, betapa kuat solidaritas warga ketika berhadapan dengan persoalan nyata di depan mata. Kedua, betapa telat respon pemerintah terhadap kebutuhan dasar infrastruktur, terutama terkait jalan rusak di daerah pelosok. Tulisan ini mengupas strategi kreatif warga, peran media sosial, hingga pesan moral tentang hubungan antara negara, teknologi, serta gotong royong.
Selama lebih dari 10 tahun, jalan rusak di Pragaan Laok menjadi rutinitas yang dipaksa diterima. Lubang besar, genangan air, serta permukaan bergelombang membuat warga kesulitan membawa hasil panen, mengantar anak sekolah, hingga mengakses fasilitas kesehatan. Kondisi itu memakan biaya sosial cukup besar, meski sering luput dari hitungan kebijakan. Bukan hanya soal kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan dan peluang ekonomi warga desa.
Dalam konteks itu, muncul inisiatif memanfaatkan live TikTok sebagai sarana penggalangan dana. Warga tidak sekadar menghibur penonton. Mereka menjadikan layar ponsel sebagai panggung cerita tentang jalan rusak, lengkap dengan testimoni pengguna jalan. Penonton merasa terlibat secara emosional, kemudian ikut menyumbang. Donasi demi donasi masuk, hingga terkumpul biaya material sekitar Rp30 juta, cukup signifikan bagi komunitas perdesaan.
Apa yang terjadi di Pragaan Laok menunjukkan perubahan pola gerak sosial. Dahulu, protes terkait jalan rusak biasanya dilakukan lewat demonstrasi atau pengaduan resmi. Kini, warga beralih ke platform digital, sekaligus mengubah cara bercerita. Mereka tidak sekadar menuntut, tetapi menawarkan solusi konkret. Media sosial berperan ganda: sebagai alat advokasi dan kanal pendanaan, mirip konsep crowdfunding, namun disajikan secara real time di layar TikTok.
Jalan rusak berpuluh tahun di satu titik wilayah bukan sekadar soal teknis. Kondisi itu menelanjangi prioritas pembangunan. Infrastruktur seharusnya menjadi tulang punggung mobilitas warga. Jika masih ada akses yang dibiarkan rusak hingga satu dekade, muncul pertanyaan besar tentang tata kelola. Apakah perencanaan anggaran melupakan daerah pinggiran, atau ada hambatan birokrasi sehingga perbaikan terus tertunda?
Di sisi lain, aksi warga memperbaiki jalan rusak lewat donasi TikTok mengirimkan pesan simbolis cukup keras. Tanpa perlu spanduk protes, mereka menunjukkan bahwa masyarakat mampu bergerak lebih cepat daripada sistem resmi. Namun, sebagai penulis, saya melihat sisi problematis. Kreativitas warga patut diapresiasi, tetapi tidak boleh menjadi alasan negara melepaskan kewajiban. Perawatan jalan umum tetap tanggung jawab pemerintah, bukan semata urusan konten kreator lokal.
Pertanyaan lanjutan muncul: jika pola ini terus berulang, apakah setiap jalan rusak harus menunggu aksi viral dulu baru tertangani? Ketergantungan pada sorotan media sosial berpotensi melahirkan ketidakadilan baru. Wilayah yang kurang melek digital mungkin tidak pernah viral, sehingga risiko terabaikan makin besar. Pemerintah perlu menjadikan kasus Pragaan Laok sebagai alarm untuk memperbaiki mekanisme pemantauan infrastruktur secara menyeluruh.
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat perbaikan jalan rusak melalui live TikTok sebagai bentuk gotong royong versi 4.0. Warga berjibaku di lapangan, penonton menyumbang dari berbagai kota, bahkan mungkin dari luar negeri, semua terhubung lewat jaringan internet. Ini membuktikan bahwa solidaritas sosial beradaptasi dengan zaman. Namun, euforia tersebut sebaiknya tidak menutupi fakta bahwa hak dasar warganegara masih bergantung pada kreativitas konten. Kesimpulan reflektif yang perlu kita pegang: partisipasi publik memang krusial, tetapi negara tidak boleh mundur selangkah pun dari komitmen menyediakan jalan layak, agar setiap cerita tentang jalan rusak kelak hadir hanya sebagai kenangan, bukan kenyataan berulang.
huntercryptocoin.com – Saat prabowo resmikan capaian swasembada pangan Indonesia 2025, peristiwa itu tidak sekadar seremoni…
huntercryptocoin.com – Bantuan Subsidi Upah (BSU) hampir selalu menjadi topik panas ketika situasi ekonomi nasional…
huntercryptocoin.com – Perdebatan soal KUHP baru kembali menghangat. Aktivis perempuan Ida N Kusdianti memberi peringatan…
huntercryptocoin.com – Suasana Kapas Madya, Surabaya, mendadak gaduh ketika seorang remaja tertangkap basah mencoba membawa…
huntercryptocoin.com – Medan Deli kembali jadi sorotan. Bukan karena prestasi, melainkan karena ruas Jalan KL…
huntercryptocoin.com – Beberapa pekan terakhir, istilah superflu H3N2 mulai ramai dibicarakan. Lonjakan kasus infeksi saluran…