huntercryptocoin.com – Berita jatim terkini kembali menyorot Surabaya, kali ini terkait banjir di kawasan Tambak Osowilangun. Pemerintah kota menegaskan, tumpukan sampah di saluran air menjadi pemicu utama genangan yang kembali terulang saat hujan lebat. Fenomena ini bukan sekadar problem teknis, tetapi cermin kebiasaan harian warga urban yang masih abai terhadap pengelolaan limbah rumah tangga.
Peristiwa ini menambah daftar panjang isu lingkungan jatim terkini, terutama di wilayah pesisir dan pinggiran kota. Tambak Osowilangun sebetulnya punya peran penting sebagai penyangga ekosistem pesisir barat Surabaya. Namun, ketika saluran tersumbat sampah, air kehilangan jalur alami untuk mengalir. Dari sinilah, banjir muncul, merugikan warga sekaligus mengganggu aktivitas ekonomi sehari-hari.
Potret Banjir Tambak Osowilangun di Pusaran Jatim Terkini
Banjir di Tambak Osowilangun menegaskan bahwa isu sampah sudah masuk tahap krisis. Setiap musim hujan, keluhan warga berulang, genangan kembali hadir, lalu surut, kemudian dilupakan. Dalam lanskap jatim terkini, pola seperti ini berpotensi menjadi siklus berbahaya, sebab iklim makin sulit diprediksi. Curah hujan ekstrem bisa datang sewaktu-waktu, menambah tekanan pada infrastruktur drainase yang sudah rapuh.
Pemerintah kota merespons dengan menyebut tumpukan sampah di saluran menjadi pemicu utama. Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya benang merah antara perilaku sehari-hari masyarakat dan dampak lingkungan. Banjir bukan semata buah dari hujan, melainkan konsekuensi kolektif dari kebiasaan membuang limbah ke sungai, selokan, juga bozem. Dalam kacamata jatim terkini, isu ini menyatukan aspek sosial, budaya, serta tata ruang.
Dari sisi teknis, kapasitas saluran air di wilayah pesisir Surabaya sebenarnya sudah lama berada di ambang batas. Sedimentasi, pembangunan permukiman padat, serta pembuangan limbah ilegal mempersempit ruang aliran air. Ketika hujan turun deras, air tidak punya banyak opsi selain meluap ke jalan-jalan. Banjir di Tambak Osowilangun jadi ilustrasi nyata bagaimana satu titik lemah sistem perkotaan jatuh tepat pada isu lingkungan yang seharusnya sudah diantisipasi sejak lama.
Sampah, Perilaku Warga, dan Tanggung Jawab Bersama
Menyalahkan sampah tanpa menelusuri akarnya membuat solusi terasa setengah hati. Sampah muncul karena ada kebiasaan, kebutuhan, lalu ketidakmampuan sistem mengelola limbah secara tuntas. Di kawasan pesisir, khususnya daerah ekonomi menengah ke bawah, fasilitas pengumpulan sampah sering tidak merata. Akibatnya, sebagian warga mencari jalan pintas: membuang ke sungai atau saluran terdekat. Inilah sisi gelap jatim terkini yang jarang dibahas secara jujur.
Sebagai penulis yang mengikuti isu jatim terkini, saya melihat ada celah besar antara kampanye kebersihan dan implementasi lapangan. Spanduk, poster, serta imbauan rutin memang hadir, namun pengawasan, insentif, dan sanksi jarang berjalan konsisten. Masyarakat pun bersikap pragmatis: bila pembuangan ke tempat resmi terasa ribet, mereka mencari cara paling mudah. Konsekuensinya muncul beberapa bulan kemudian, saat hujan membawa kembali “warisan” kebiasaan buruk itu ke depan rumah mereka sendiri.
Dalam konteks lebih luas, persoalan ini menunjukkan kegagalan kita memandang sampah sebagai sumber daya. Banyak materi bisa didaur ulang, diolah ulang, bahkan memberi nilai ekonomi bagi warga lokal. Bila kota mampu membangun ekosistem ekonomi sirkular secara serius, pemandangan selokan dipenuhi plastik mungkin berkurang. Upaya tersebut perlu diposisikan sebagai agenda prioritas jatim terkini, bukan sekadar program tambahan menjelang musim hujan.
Infrastruktur Surabaya dan Tantangan Iklim Masa Depan
Banjir Tambak Osowilangun juga menantang kesiapan Surabaya menghadapi perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut, penurunan tanah, serta hujan intens akan memperbesar risiko banjir di wilayah pesisir. Penataan ulang drainase, revitalisasi bozem, pembatasan pembangunan di kawasan rawan, hingga program penghijauan perlu dirancang dengan visi jauh ke depan. Jatim terkini menuntut model kota yang tangguh, bukan sekadar responsif setiap kali banjir terjadi, lalu senyap ketika genangan surut. Di titik ini, refleksi paling penting adalah kesediaan semua pihak—pemerintah, pengembang, komunitas, warga—untuk mengubah pola pikir dari “membersihkan setelah banjir” menjadi “mencegah sebelum hujan berikutnya datang”.
